YLKI Ungkap 15 Merek Garam di DKI Tak SNI, Ini Tanggapan Kemenkes

Sugeng rawuh Zaaf Team di Website Kami!

Jakarta – YLKI Ungkap 15 Merek Garam di DKI Tak SNI, Ini Tanggapan Kemenkes

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) DKI Jakarta menemukan banyak merek produk garam yang kandungan iodium atau yodiumnya lebih sedikit dibandingkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Data ini diperoleh dari survei status iodium dan analisis label kemasan pada konsumsi garam di DKI Jakarta. Penelitian dilakukan selama bulan Agustus-Desember 2022.

Tujuan penelitian adalah mengetahui kandungan iodium garam yang beredar di masyarakat, serta mengetahui kemasan produk Agra mulai dari label halal, label iodium, tanggal kadaluwarsa, izin edar. Penting! Daftar Lengkap 102 Obat Sirup Dilarang Diresepkan Dokter dan Dijual di Apotek

Penelitian melibatkan 70 sampel produk garam dan dilakukan di wilayah DKI Jakarta, Kepulauan Seribu, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Jakarta Barat, sebagian besar jenis garam dalam sampel tersebut adalah garam halus 89 persen.

Hasil survei menunjukkan daerah dengan produk garam yang tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) terbanyak berada di Jakarta Utara yaitu sebesar 33,33 persen, jelas anggota Departemen Riset YLKI Niti Emiliana dalam konferensi pers, Sabtu. (3/03/2019) 2/2024).

Persyaratan parameter mutu kandungan yodium minimal 30 bagian per juta (ppm) dan tidak kurang dari 30 miligram per kilogram (mg/kg).

Temuan kedua adalah 8,6 persen produk yang mengandung garam tidak memiliki label garam beryodium. Ketiga, 21,4 persen atau 15 merek dari 70 produk garam konsumen yang beredar di DKI Jakarta memiliki kadar yodium di atas standar SNI.

“Kami menguji 15 sampel, menunjukkan hasil di bawah standar SNI dan kandungan yodium di bawah 30 ppm,” ujarnya.

Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI dr CT Nadia Tarmiji mengatakan, garam beryodium merupakan obat penyakit gondok yang diterima dan menjadi perhatian pemerintah. waktu yang lama

Menurutnya, meski penyakit gondongan akibat kekurangan yodium di Indonesia saat ini sangat jarang terjadi, namun asupan yodium tetap penting bagi kesehatan.

“Yodium merupakan unsur penting untuk tumbuh kembang, termasuk perkembangan otak, sehingga perlu dikonsumsi,” ujarnya saat dihubungi Detikcom, Sabtu (3/2). YLKI Ungkap 15 Merek Garam di DKI Tak SNI, Ini Tanggapan Kemenkes

Selain itu, YLKI juga mengimbau Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memantau secara ketat produk yang mengandung garam beryodium untuk menjamin keamanan pangan. Pencegahan, kata dia, berarti pengambilan keputusan sebelum pasar dan pasca pasar.

Mereka juga mewajibkan produsen untuk melakukan proses pemantauan kendali mutu dengan memberikan nomor izin edar, tanggal kadaluarsa, informasi nutrisi dan informasi kehalalan produk. Selain itu, produsen garam diminta memilih bahan baku terbaik.

Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 30 Tahun 2013 tentang Tanggung Jawab Produsen Tentang Penempatan Label Yang Mengandung Informasi Gizi Pada Kemasan Pangan Olahan Dan Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 Tentang Label Pangan Olahan makanan,” tutupnya. . Saksikan video “Pengguna Rokok Elektrik Terus Bertambah di Indonesia” (suck/up).